Inovasi teknologi pengolahan pascapanen menjadi kendala bagi produk akhir kopi Nusantara untuk digdaya di pasar dunia? Bisa jadi. Paling tidak itu bisa dilihat dari kenyataan bahwa ekspor kopi Indonesia masih didominasi kopi mentah alias green bean. Namun, dengan kehadiran teknologi modern mesin sangrai fluidisasi, ketertinggalan itu akan segera menjadi masa lalu. Teknologi sangrai fluidisasi (fluidized-bed roasting) mulai hadir di tengah-tengah masyarakat petani kopi dalam rangka mempersembahkan kepada dunia citarasa paripurna kopi Nusantara.
Indonesia adalah negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolumbia. Berikut ini tujuh negara penghasil kopi terbesar di dunia menurut International Coffee Organization:
- Brazil: 2.859,502 US tons.
- Vietnam: 1.818.811 US tons
- Kolumbia: 871 US tons
- Indonesia: 629 US tons
- Ethiopia: 287 US tons
- India: 786 US tons
- Honduras: 296 US tons
[CATATAN: 1 US tons = 907,18474 kg]
Jawara kopi. Tapi, dalam percaturan industri kopi, kita masih jauh dari singgasana raja kopi, termasuk di negeri sendiri. Kafe-kafe kopi elite yang unggul di kota-kota besar bukanlah milik jaringan lokal. Juga, yang kita ekspor kebanyakan bukan produk akhir, tapi masih berupa green bean.
Mengapa? Karena kita masih menghadapi kendala dalam hal mutu, mulai dari proses penanaman sampai pengolahan menjadi produk akhir. Kasarnya, kita belum “dipercaya” orang lain dalam mengolah hasil perkebunan kita sendiri yang jawara tadi.
Itu dari sudut pandang negatif (“sedih”)-nya. Tapi, dalam paparan ini kami ingin berbagi sudut pandang positif.
Berdasarkan pengamatan dalam kunjungan ke beberapa sentra kopi, terutama di Jawa, belum lama ini, kami melihat sekurang-kurangnya ada dua perkembangan yang menggembirakan. Pertama, ada indikasi kuat peningkatan konsumen lokal kopi. Peningkatan itu terlihat dengan semakin maraknya budaya ngopi di warung kopi atau kafe, baik untuk sekadar keperluan rehat, pertemanan, maupun keperluan relasi bisnis. Itu terjadi tidak hanya di kota-kota besar, tapi juga kota-kota kecil, tingkat kecamatan, bahkan di desa-desa.
Saat ini, rata-rata orang Indonesia mengonsumsi 1,1 kg kopi per tahun. Memang masih jauh di bawah bangsa-bangsa penikmat kopi di dunia seperti Finlandia (11 kg), Norwegia (10 kg), Belgia (8 kg), Austria (7,6 kg), atau Amerika Serikat dan Jepang yang masing-masing (4,3 dan 3,4 kg). Namun, angka konsumsi kopi nasional menunjukkan tren naik rata-rata 7 persen per tahun.
Perkembangan tersebut mendorong perkembangan lainnya, perkembangan kedua, yakni tumbuhnya usaha perkopian, mulai dari pertanian kopi, produk-produk kopi olahan, sampai kafe atau warung kopi. Nah, yang menarik dari perkembangan itu adalah kesadaran dan sekaligus gairah untuk mencuatkan identitas kopi lokal.
Dulu, konsumen warung kopi tidak akan bertanya jenis kopi yang disajikan. Pesan kopi, ya pesan kopi saja. Kini, di kafe-kafe dan warung-warung kopi, selain memesan dengan variasi pilihan cara menyeduh modern, para konsumen mulai “usil” bertanya jenis dan asal-usul kopi, sampai soal berapa ketinggian arena penanaman kopi dari permukaan laut.
Pendek kata, para konsumen semakin bergeser dari sekadar peminum “minuman rasa kopi” menjadi penikmat kopi dengan sensasi dari tiap-tiap jenis kopi yang dinikmati. Itu artinya, konsumen semakin peduli dengan kualitas kopi premium (specialty). Pelan-pelan, kecenderungan ini akan menggeser peran produk-produk kopi olahan yang tak mengindahkan identitas kopi lokal.
Menggembirakan, tapi sekaligus tantangan. Bukan hanya bagi pengusaha kafe maupun produsen produk kopi olahan, tapi juga (dan terutama) petani kopi. Sebab, untuk menghasilkan secangkir kopi premium atau specialty-grade coffee, dibutuhkan satu rangkaian utuh sejak penanaman kopi, perawatan, panen, pengolahan pasca panen, teknik penyangraian, sampai pada keahlian barista.
Bumi Nusantara nan luas, subur dan indah memiliki sejarah panjang pertanian kopi. Berlimpah karunia kopi dalam rupa maupun jumlah. Ada jejak-jejak cinta terukir lestari, sehingga menjadikan Indonesia negeri terbesar keempat penghasil kopi di dunia. Giat, dengan teknologi sangrai fluidisasi yang modern, hadir untuk turut melestarikan citarasa paripurna kopi Nusantara. Pada setiap cangkir kopi, tertera jejak komitmen petani kopi, lalu kami memberinya sentuhan teknologi premium.
Giat Coffee, kami adalah pecinta kopi yang tergugah untuk turut bersama para petani kopi beserta segenap masyarakat pecinta kopi lainnya dalam menyajikan kemurnian citarasa paripurna kopi Nusantara kepada dunia. Kami menciptakan dan mengoperasikan mesin sangrai kopi berteknologi fluidisasi (fluidized-bed), serta bermitra dengan para petani kopi dengan kerjasama sewa bagi hasil. Kami percaya, dengan komitmen-cinta para petani, kedisiplinan olah-pasca-panen, sampai penyangraian berkualitas dan ketangkasan menyeduh akan menjadikan keluhuran kopi Nusantara semakin mendunia.
